Koleksi Pilihan Panduan

7 Film Adaptasi Buku Favorit

film adaptasi buku the godfather

Semua orang tahu kalau ada banyak film adaptasi buku. Namun tidak sedikit yang mengecewakan. Biasanya, walau filmnya sendiri bisa dibilang lumayan, ada saja yang tidak memuaskan fans buku tersebut. Untuk akhir minggu ini, saya mau membahas film apa saja yang ceritanya diangkat dari buku, dan hasilnya sama bagus dengan buku aslinya.

Bisa dipahami tantangan yang dimiliki oleh pembuat film. Mereka harus memindah isi buku ke bentuk yang lebih sesuai ditampilkan secara visual. Dengan demikian, mereka memangkas kekuatan dari buku itu sendiri, yaitu imajinasi pembaca. Repotnya, setiap pembaca memiliki imajinasi yang berbeda.

Saya sendiri, saat nonton film adaptasi buku yang sudah saya baca, sering takut kecewa. Akan lebih baik kalau saya belum membaca bukunya. Dari sekian banyak film yang berhasil menerjemahkan buku, di bawah ini beberapa catatan saya.

The Godfather

Film ini masuk ke daftar film terbaik sepanjang masa versi saya. Film ini—The Godfather 1 dan 2—diangkat dari buku berjudul sama karangan Mario Puzo. Ceritanya berdasar kisah nyata peperangan 5 keluarga mafia di New York. Susunan ceritanya, walau dipecah jadi dua film, memiliki intensitas yang serupa dengan buku. The Godfather part 3, yang menjadi akhir trilogi ini, tidak ada di dalam buku aslinya.

Sebenarnya tidak mengherankan juga kalau film yang mengangkat Al Pacino dan Robert De Niro sebagai aktor papan atas ini dekat dengan bukunya. Wong yang menulis screenplay-nya Mario Puzo sendiri.

Trilogi The Lord of The Rings

Luar biasa bagaimana sebuah film bisa menerjemahkan imajinasi buku bergenre fantasi dengan baik. Tapi itulah yang dilakukan oleh trilogi the Lord of the Rings. Baik penggambaran dunianya, karakternya, sampai jalan cerita, hadir dengan baik. Terutama kalau kalian menonton extended version yang berdurasi cukup panjang.

Salah satu faktor penyebabnya, mungkin adalah proses syuting ketiga film tersebut yang berjalan hampir tidak terputus. Panjang durasi pengambilan gambar keseluruhan disebut sepanjang 274 hari, dalam 16 bulan. Hal ini yang membedakan dengan film bergenre fantasi populer lain, Harry Potter, yang tiap filmnya ditangani oleh tim berbeda (minimal sutradara berbeda).

Kita juga mungkin harus berterima kasih pada almarhum Christopher Lee (pemeran Saruman) yang merupakan fans berat buku ini, dan merupakan satu-satunya di antara pemeran dan kru film yang pernah bertemu dengan J.R.R. Tolkien. Ia menjadi konsultan tidak resmi film the Lord of The Rings.

Sin City

Menurut Robert Rodriguez, sutradaranya, film ini bukanlah adaptasi dari novel grafis dari Frank Miller. Tapi merupakan terjemahan langsung secara visual. Oleh karena itu, Robert Rodriguez dan Frank Miller merencanakan pengambilan gambar film ini langsung dari tiap panel novel grafis itu sebagai story board-nya.

Hasilnya sangat memuaskan. Tampilan film mirip dengan nuansa gambar di komik. Sin City pun merebut hati penggemar film sekaligus penggemar komik karya Frank Miller.

Fight Club

Film ini diangkat dari buku berjudul sama karangan Chuck Palahniuk, disutradarai oleh David Fincher, dan dibintangi oleh Brad Pitt dan Edward Norton. David Fincher membawa nuansa di buku ke film, dan membuatnya menjadi salah satu film kontroversial di tahun 1999. Film ini sendiri gagal di box office. Namun kemudian justru menjadi film cult saat dirilis di DVD.

Chuck Palahniuk sendiri memuji adaptasi film dari bukunya. Ia berpendapat bahwa film ini membawa plot cerita lebih baik dari buku yang ia tulis.

The Martian

Film yang diangkat dari buku karangan Andy Weir ini merupakan sukses besar di box office, dan menjadi favorit banyak orang. Walau banyak detil ilmiah (yang dinarasikan dengan menarik di buku) tidak masuk di film, namun secara keseluruhan film ini berhasil membawa isi buku ke layar.

Andy Weir, yang menulis buku ini secara serial di blognya, menyatakan puas dengan hasilnya. Ia menyebutkan bahwa satu-satunya kekecewaan adalah tidak masuknya catatan Mark Watney yang mengatakan “How come Aquaman can control whales? They’re mammals! Makes no sense” di film.

The Shawshank Redemption

Film ini juga salah satu film favorit saya. Film ini diangkat dari novel berjudul Rita Hayworth and Shawshank Redemption yang ditulis oleh Stephen King. The Shawshank Redemption, walau mendapat banyak penghargaan (termasuk nominasi Oscar), gagal di box office. Seperti juga Fight Club, film ini meraih sukses di kemudian hari, dan dianggap sebagai salah satu film terbaik sepanjang masa.

Stephen King mengatakan bahwa The Shawshank Redemption adalah salah satu film adaptasi buku karyanya yang menjadi favoritnya.

The Silence of The Lambs

Hampir dari segala sisi film ini terlihat dahsyat. Baik dari sisi adegan, pemeran, akurasi teknis, dll. Sir Anthony Hopkins memerankan Hannibal Lecter, sang pembunuh yang jenius dan juga kanibal, dengan sangat baik sampai Jodie Foster, pemeran Clarice Starling, takut bertemu dengannya saat pengambilan gambar.

Pengarang bukunya, Thomas Harris yang terkenal tertutup dan pemalu, mengirim wine untuk para pemenang Oscar film ini. Bahkan FBI juga terkesan dengan The Silence of The Lambs.

Itulah 7 film adaptasi buku favorit (saya). Masih ada beberapa lagi sebenarnya. Film lain yang layak disebut adalah Forrest Gump, The Green Mile, Hugo, Watchmen, dan Jurassic Park.

Seperti saya sebut di atas, cukup sulit menerjemahkan buku fiksi bergenre fantasi atau petualangan di film sesuai dengan harapan pembaca. Karena satu dan lain hal, seri Harry Potter, The Hunger Games, Narnia, bahkan The Hobbit (prekuel the Lords of the Rings), walau asik ditonton, kurang memuaskan. Begitu pun dengan film dari buku Dan Brown (DaVinci Code, Angel and Demons), seri Jason Bourne (karya Robert Ludlum), atau Jack Ryan (karya Tom Clancy).

Kalau ingin melihat film-film yang saya tonton, bisa mengunjungi Letterboxd; dan kalau ingin melihat buku yang saya baca, silakan kunjungi Goodreads.